Friday, February 25, 2011

Sejarah Graffiti



Graffiti--Ladida CafeMenjelang UN, sekolah saya banyak mengadakan ujian uji coba alias try out. Tidak itu juga, pelajaran juga terus diasah kepada murid-muridnya supaya lulus dengan nilai yang memuaskan. Jika dalam keadaan semangat ya tidak masalah, namun kalau dalam keadaan malas dan capek, wah, berat sekali rasanya. Sering saya mengalaminya sehingga untuk melampiaskan rasa malas, saya gambar graffiti di kertas, hehee (jangan dicontoh).

Ngomong-ngomong soal graffiti nih, ternyata ada sejarahnya. Saya akan membagikan kepada para pembaca sekaligus untuk mengisi daftar artikel sebelum saya tinggal vacuum lagi untuk konsen sekolah.

Sebelum kita tahu sejarahnya, tidak ada salahnya jika kita tahu apa itu graffiti. Graffiti (juga dieja graffity atau graffiti) adalah coretan-coretan pada dinding yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk, dan volume untuk menuliskan kata, simbol, atau kalimat tertentu. Alat yang digunakan pada masa kini biasanya cat semprot kaleng. Sebelum cat semprot tersedia, grafiti umumnya dibuat dengan sapuan cat menggunakan kuas atau kapur. Ingat, tulisannya pakai huruf F, bukan P, nanti jadinya grappiti.

Kebiasaan melukis di dinding bermula dari manusia primitif sebagai cara mengkomunikasikan perburuan. Pada masa ini, graffiti digunakan sebagai sarana mistisme dan spiritual untuk membangkitkan semangat berburu.

Adanya kelas-kelas sosial yang terpisah terlalu jauh menimbulkan kesulitan bagi masyarakat golongan tertentu untuk mengekspresikan kegiatan seninya. Akibatnya beberapa individu menggunakan sarana yang hampir tersedia di seluruh kota, yaitu dinding.

Graffiti sebagai sarana menunjukkan ketidak puasan baru dimulai pada zaman Romawi dengan bukti adanya lukisan sindiran terhadap pemerintahan di dinding-dinding bangunan. Lukisan ini ditemukan di reruntuhan kota Pompeii. Sementara di Roma sendiri dipakai sebagai alat propaganda untuk mendiskreditkan pemeluk kristen yang pada zaman itu dilarang kaisar. Di zaman Mesir kuno juga memperlihatkan aktivitas melukis di dinding-dinding piramida. Lukisan ini mengkomunikasikan alam lain yang ditemui seorang pharaoh (Firaun) setelah dimumikan.

Pada perkembangannya, graffiti di sekitar tahun 70-an di Amerika dan Eropa akhirnya merambah ke wilayah urban sebagai jati diri kelompok yang menjamur di perkotaan. Karena citranya yang kurang bagus, graffiti telanjur menjadi momok bagi keamanan kota. Alasannya adalah karena dianggap memprovokasi perang antar kelompok atau gang. Selain dilakukan di tembok kosong, graffiti pun sering dibuat di dinding kereta api bawah tanah.

Graffiti dibagi menjadi 2, yaitu Gang Graffiti dan Tagging Graffiti. Gang Graffiti berfungsi sebagai identifikasi daerah kekuasaan lewat tulisan nama gang, gang gabungan, para anggota gang, atau tulisan tentang apa yang terjadi di dalam gang itu. Sementara Tagging Graffiti yaitu jenis graffiti yang sering dipakai untuk ketenaran seseorang atau kelompok. Semakin banyak graffiti jenis ini bertebaran, maka makin terkenal nama pembuatnya.

Graffiti juga punya fungsi :
  • Bahasa rahasia kelompok tertentu.
  • Sarana ekspresi ketidak puasan terhadap keadaan sosial.
  • Sarana pemberontakan.
  • Sarana ekspresi ketakutan terhadap kondisi politik dan sosial.
Nah, meski sepertinya merusak keasrian lingkungan dan menambah biaya pemeliharaan, graffiti juga patut dihargai loh. Namun, jangan sewenang-wenang ya buat gambar graffiti di tembok-tembok. Jadilah pembuat graffiti yang bertanggung jawab. Mungkin kalau perlu, setiap kota bisa membuat sejenis wilayah untuk menampung para anak-anak graffiti untuk menyalurkan bakatnya dan tidak hanya merugikan suatu wilayah. Hehehee.

Referensi :

Wikipedia

No comments:

Post a Comment